Kamu itu anak goblok, jendel dan tolol, lihat anak lain pintar semua, kenapa kamu tidak bisa. Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Kalimat di atas sering saya dari orangtua ketika mendapatkan nilai akademik anaknya tidak memuaskan. Sepintas ini hal yang biasa dan dianggap lumrah tapi ternyata sangat mengganggu mental si anak. Selain itu, cara tersebut jelas tidak dibenarkan baik ditinjau dari aspek ilmiah maupun agama.
Fakta di lapangan, masih banyak orangtua yang memberikan stigma buruk kepada anak-anaknya ketika nilai akademiknya jelek. Padahal menurut Daniel Goleman, penulis buku kecerdasan emosi yang juga ahli psikologi, bahwa IQ hanya menyumbangkan 5-10% kesuksesan seseorang, sedangkan sisanya yang 90 persen ada di kecerdasan emosional dan spiritual. Sebuah fakta yang mengaggetkan saya atau mungkin anda sendiri. Maklum, selama ini kita hanya ditekan untuk menjadi orang cerdas akademik. Padahal, ada potensi kecerdasan emosional dan spiritual yang kita miliki tapi tidak pernah dikenalkan kepada kita.
Saya masih ingat saat masih SMP sekitar tahun 1993 lalu, guru matematika dan fisika saya selalu memberikan hukuman fisik kepada siswa yang nilai lima. Kedua guru ini hanya memuji siswa yang pandai matematika dan mereka selalu mendapat perhatian penuh. Jika mengingat semua itu, sakit hati ini, karena ternyata guru yang mestinya menjadi fasilitator justru menghancurkannya mental siswa sendiri.
Kisah yang mirip juga terjadi di daerah lain, diantaranya kisah yang ditulis oleh Taufik Pasiak, penulis buku revolusi IQ/EQ/SQ dari Manado. Dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado, ini menceritakan kekecewaan seorang siswa di salah satu sekolah di Manado ketika menanyakan kepada salah seorang gurunya soal kecerdasan. Dalam buku tersebut, siswa itu bertanya kepada sang guru, siapakah yang lebih pintar, Albert Einstein atau Mike Tyson?, Rudi Hartono atau BJ.Habibi.
Mendengar pertanyaan siswa tersebut, sang guru tidak memberikan jawaban yang tidak memuaskan, karena hanya dijawab mana mungkin orang tersebut disamakan. Sang siswa sendiri adalah pemain basket terkenal yang mengharumkan nama sekolahnya. Sang siswa merasa tidak dianggap cerdas dan pantas oleh guru sehingga jawabannya terkesan menyepelekan.
Pemahaman sang guru yang menganggap siswa pemain basket sepertinya perlu diluruskan supaya tidak ada korban selanjutnya. Menurut Paul Stoltz dalam bukunya yang berjudul Adversity Question, kunci kesuksesan ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya kinerja, bakat, kemauan, karakter, kesehatan dan keyakinan.
Nah, mulai sekarang hilangkan dan lenyapkan dari pikiran kita untuk memberikan stigma buruk kepada anak-anak kita, karena kecerdasan akademik hanya 5-10% menentukan kesuksesan. ***
Kalimat di atas sering saya dari orangtua ketika mendapatkan nilai akademik anaknya tidak memuaskan. Sepintas ini hal yang biasa dan dianggap lumrah tapi ternyata sangat mengganggu mental si anak. Selain itu, cara tersebut jelas tidak dibenarkan baik ditinjau dari aspek ilmiah maupun agama.
Fakta di lapangan, masih banyak orangtua yang memberikan stigma buruk kepada anak-anaknya ketika nilai akademiknya jelek. Padahal menurut Daniel Goleman, penulis buku kecerdasan emosi yang juga ahli psikologi, bahwa IQ hanya menyumbangkan 5-10% kesuksesan seseorang, sedangkan sisanya yang 90 persen ada di kecerdasan emosional dan spiritual. Sebuah fakta yang mengaggetkan saya atau mungkin anda sendiri. Maklum, selama ini kita hanya ditekan untuk menjadi orang cerdas akademik. Padahal, ada potensi kecerdasan emosional dan spiritual yang kita miliki tapi tidak pernah dikenalkan kepada kita.
Saya masih ingat saat masih SMP sekitar tahun 1993 lalu, guru matematika dan fisika saya selalu memberikan hukuman fisik kepada siswa yang nilai lima. Kedua guru ini hanya memuji siswa yang pandai matematika dan mereka selalu mendapat perhatian penuh. Jika mengingat semua itu, sakit hati ini, karena ternyata guru yang mestinya menjadi fasilitator justru menghancurkannya mental siswa sendiri.
Kisah yang mirip juga terjadi di daerah lain, diantaranya kisah yang ditulis oleh Taufik Pasiak, penulis buku revolusi IQ/EQ/SQ dari Manado. Dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado, ini menceritakan kekecewaan seorang siswa di salah satu sekolah di Manado ketika menanyakan kepada salah seorang gurunya soal kecerdasan. Dalam buku tersebut, siswa itu bertanya kepada sang guru, siapakah yang lebih pintar, Albert Einstein atau Mike Tyson?, Rudi Hartono atau BJ.Habibi.
Mendengar pertanyaan siswa tersebut, sang guru tidak memberikan jawaban yang tidak memuaskan, karena hanya dijawab mana mungkin orang tersebut disamakan. Sang siswa sendiri adalah pemain basket terkenal yang mengharumkan nama sekolahnya. Sang siswa merasa tidak dianggap cerdas dan pantas oleh guru sehingga jawabannya terkesan menyepelekan.
Pemahaman sang guru yang menganggap siswa pemain basket sepertinya perlu diluruskan supaya tidak ada korban selanjutnya. Menurut Paul Stoltz dalam bukunya yang berjudul Adversity Question, kunci kesuksesan ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya kinerja, bakat, kemauan, karakter, kesehatan dan keyakinan.
Nah, mulai sekarang hilangkan dan lenyapkan dari pikiran kita untuk memberikan stigma buruk kepada anak-anak kita, karena kecerdasan akademik hanya 5-10% menentukan kesuksesan. ***






0 komentar:
Posting Komentar