Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Raga
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu
Sebait syair Izzatul Islam ini mengingatkan saya pada sosok manusia yang nyaris sempurna. Kehidupannya yang bersahaja menjadikan doa dan nasehatnya terasa sejuk. Hati ini menjadi cerah jika disemai oleh nasehatnya soal hakikat manusia.
Doanya yang lembut seperti senandung surga yang dihembuskan ke dalam jiwa manusia yang haus akan ketenangan batin. Pernah suatu ketika sosok ini memimpin doa pada aksi solidaritas palestina di Monas beberapa tahun lalu.
Kata-kata ikhlas yang keluar darinya membuat hati-hati yang hadir saat itu berguncang dan menangis seperti sahabat ketika menangisi kepergian Rasulullah SAW. Betapa tidak, manusia yang memiliki peluang untuk menjadi orang serba kecukupan tapi hidup dalam kesederhanaan.
Rakhmat Abdullah, nama yang saya kenang ketika ia menyampaikan doa untuk saudara muslim di Palestina yang setiap hari dihujani peluru dari kaum Yahudi. Anggota dewan yang ia sandang tidak menjadikan silau mata dan hatinya.
Beliau memilih menggunakan bus
Mba Helvy menangis ketika melihat Rakhmat Abdullah datang tanpa seseorang yang mendampingi meskipun sebagi anggota dewan. Tak hanya itu, sang ustad datang dengan menggunakan bus layaknya masyarakat biasa. Bahkan, dalam kisahnya mba Helvy sudah memaklumi jika sang ustad tidak datang karena kesibukannya sebagai wakil rakyat.
Pada detik-detik acara, mba Helvy menyampaikan kepada peserta bahwa kemungkinan sang ustad tidak bisa datang dan dirinya bisa memaklumi. “Ketika itu saya tidak mau menghubungi beliau karena sudah membayangkan perjalanan dari
Kini, beliau telah berpulang ke pangkuan kekasihnya yaitu Allah SWT. Kapan kau datang lagi Ustad, kami rindu dengan semaian melalui nasehatmu. Kami butuh orang bersahaja sepertimu dan kami berharap ada penggantimu yang dihadirkan ke tengah-tengah kami.







0 komentar:
Posting Komentar