Manfaatkan Limbah Untuk Biaya Sekolah

Bau busuk menyengat, ribuan lalat beterbangan, tidak dihiraukan para pemulung beberapa anak usia sekolah dasar (SD) di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong di Desa Cilowong, Kecamatan Taktakan.


KARNOTO - Taktakan


Hampir seharian, Jumat (21/9), saya berada di TPSA Cilowong. Di antara pemulung berusia dewasa, puluhan anak juga berlomba mengais rejeki dengan memanfaatkan barang-barang yang mempunyai nilai jual seperti, alumunium dan kertas yang terselip di antara tumpukan sampah.

Dari keterangan pemulung berusia sekolah dasar itu, aktivitas mereka dipicu oleh himpitan ekonomi orangtuanya. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecilnya itu dipaksa menjadi pemulung untuk membiayai sekolahnya.

Salah satu pemulung, Damiri, Kelas VI SDN Kubang asal Kampung Cikoak mengaku, aktivitasnya menjadi pemulung di TPSA Cilowong sudah dilakoninya sejak usianya masih tujuh tahun. “Orangtua sudah tidak mampu membiayai sekolah. Makanya, sepulang sekolah saya ke sini untuk nyari barang yang bisa dijual,” tutur anak berusia 12 tahun ini.

Dari pekerjaannya, Damiri mengaku dapat mengumpulkan barang sisa limbah rumah tangga sebanyak 3 kilogram yang dapat diuangkan sekitar Rp 5.000 sampai Rp 10.000. “Kalau lagi liburan sekolah, bisa dapat Rp 30.000 karena waktunya lebih lama,” katanya.
Dari hasilnya memulung barang-barang bekas, selain untuk biaya sekolah anak-anak itu juga menyisihkan sebagian hasil keringatnya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Jika masih ada diserahkanpada orangtuanya.

Ratih, pemulung lainnya mengatakan, pencarian barang bekas di antara tumpukan sampah biasa dilakukan mulai pukul 13.00 hingga pukul 17.00. “Sebelum kita jual ke penampung, kita pilih jenis sampah yang masih bisa dipakai untuk disimpan,” ujar Ratih yang juga masih berstatus sebagai siswa di sebuah SD. (Radar Banten, Sabtu, 22 September 2007).****

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: