Kecakapan Bahasa Si Kecil

Halo, Umi, Abi, Ebo, Ambing, Abut, Ayan, Ajah, Bule, Endong, Lah, Otor, Mam, Nenen, Duduk, Ambil, Angun, Ebang, Urung, Alon, Euli, Minum, Ulu, Bobo, Nulis, Ikan, Uri, Anas, Auh, Ha, Sini, Mbah…….


OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA


Itulah sebagian kata yang sering diucapkan Fadia, anak pertama kami yang ketika tulisan ini dibuat baru berusia 1,4 tahun dalam kesehariannya. Awalnya saya sebagai seorang ayah tidak terlalu menganggap penting masalah kata, yang diucapkan Fadia. Lebih tepatnya, itu sesuatu yang biasa dan tidak perlu menjadi perhatian serius. Namun, belakangan saya baru mengetahui bahwa kata yang diungkapkan oleh anak-anak bisa menjadi tolak ukur kecakapan bahasa si Kecil.

Ternyata, kecerdasan bahasa seorang anak sudah bisa dilihat sejak kecil. Di dalam majalah Nakita edisi 31 Agustus 2009, diungkapkan bahwa kecakapan bahasa si Kecil adalah kemampuan si Kecil mengolah kata secara aktif untuk mengekspresikan objek, perasaan, ataupun menanggapi satu pertanyaan, yang dapat disampaikan secara lisan dan tulisan, juga kemampuan menggunakan bahasa secara kreatif. Disebutkan, ciri-ciri anak yang memiliki kecakapan bahasa diantaranya, rasa ingin tahu yang besar, kemampuan berkomunikasi dengan baik, dan dapat memberikan jawaban secara detail dan lebih panjang dibandingkan anak seusianya.

Ciri-ciri lainnya yaitu memiliki perbendaharaan hingga 200 kata di usia 1 tahun, dapat mengkombinasi dua kata, misal “mau minum, di usia 1 tahun dan mengucapkan kalimat pendek di usia 3 tahun, dan dapat berbicara dengan artikulasi jelas yang dimengerti orang lain di usia 2 tahun.

Dari sini, saya mulai mengumpulkan kata-kata yang sering diucapkan Fadia. Tak lain tujuannya adalah untuk melihat sampai sejauhmana perkembangan bahasa Fadia. Di usainya 1, 4 tahun, Alhamdulillah Fadia sudah mampu mengucapkan dua hingga tiga kata menjadi kalimat. Beberapa diantaranya yang sering saya dengar adalah “Ulu ayan cabut”, artinya bulu ayam dicabut. Kata ini diucapkan saat Fadia membeli ayam potong di dekat rumah bersama istri.

Menurut cerita istri, saat membeli ayam potong, Fadia melihat si tukang potong mencabut bulu ayam. Lucunya, Fadia mengucapkan kalimat itu seraya mempraktekan gaya si tukang potong saat mencabut bulu ayam. Fadia secara atraktif mempraktekan cabut bulu dengan cara mencabuti perutnya. Melihat begitu atraktifnya Fadia saya tertawa sambil memancing agar Fadia mengeksplorasi kata-kata lain, di tempat yang sama.

Alhamdulillah, Fadia pun langsung menambah kata-kata diantaranya “endong ama umi”, artinya gendong sama ummi. Selanjutnya, hampir setiap hari Fadia selalu mengucapkan kata tersebut hingga sering membuat saya sendiri kelelahan, karena Fadia ingin selalu direspon ketika mengucapkan kata tersebut.

Kata-kata lain yang sering diucapkannya diantaranya “alon terbang”, artinya balon terbang. Seperti biasa, Fadia kembali mengucapkan kata ini dengan atraktif. Kali ini, Fadia mengucapkan “alon terbang’ sambil jingkrak dan menunjuk ke arah langit dengan raut muka serius seolah ingin mengatakan bahwa katam yang diucapkannya adalah masalah serius dan wajib didengarkan.

Kalau mengacu pada keterangan di majalah nakita, saya merasa yakin Fadia memiliki potensi kecerdasan bahasa. Ini saya didapatkan setelah saya dan istri menghitung satu persatu kata-kata, yang diucapkan Fadia dan hasilnya lebih dari 200 kata telah diucapkan. Bahkan, Fadia sudah mampu merangkai dua hingga tiga kata dengan atraktif. Kini, tugas sebagai orangtua selanjutnya adalah mengembangkan potensi bahasa yang dimiliki Fadia. ****



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Merenung dan Hijrah, Awal Perubahan

Jauh sebelum Muhammad saw, menaklukan Kota Mekkah dan menguasai area ka’bah hingga Islam jaya. Muhammad saw, bayi keturunan suku Quraisy ini mengalami tekanan psikologis yang begitu hebat. Ayahnya, Abdullah, meninggal dunia saat Muhammad saw masih di dalam kandungan. Tak lama kemudian, Aminah, ibunya meninggal di saat usianya baru enam tahun.

OLEH ABU HAZIMAH AYU FADIA


Lalu apa yang membuat anak yatim piatu ini menjadi sosok yang luar biasa dan menjadi urutan pertama dalam kategori orang yang berpengaruh di dunia. Sebagaimana yang ditulis oleh Michael Heart dalam bukunya 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Sebagai orang yang bangga terhadap karir sosial politiknya Muhammad saw, saya membaca beberapa buku yang menceritakan profil sang penggembala domba ini. Buku yang saya lahap diantaranya 100 tokoh paling berpengaruh di dunia, Sirah Nabawiyah dan terakhit History of the Arabs karangan Philip k Hitti.

Dari ketiga buku tersebut, saya berani menyimpulkan bahwa ada dua titik awal dalam perjalanan cucu Abdul Muthalib ini hingga mencapai puncak tertinggi sebuah perjalanan manusia. Dua hal itu adalah merenung dan hijrah yang dilakukan oleh keponakan Abu Thalib ini. Philip dalam bukunya History of the Arabs, menceritakan, setelah menikah di usia 25 tahun dengan seorang janda kaya raya yang memiliki wawasan luas keturunan Quraisy. Ekonomi Muhammad di atas angin sehingga memiliki waktu yang cukup untuk menata cita-cita dan impiannya.

Lalu Muhammad saw sering meluangkan waktunya untuk merenung di gua kecil di bukit Hira, yang terletak di luar kota Mekkah. Apa sesungguhnya cita-cita dan impian Muhammad saw ketika itu. Tak lain adalah kegelisahan, keraguan dan harapan akan datang kebenaran yang hakiki. Di gua inilah, Muhammad mendengar suara yang bernada perintah. “Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,” dan seterusnya.

Inilah awal kenabian yang menurut riwayat terjadi pada menjelang akhir bulan Ramadhan 610. Peristiwa ini menambah psikologis Muhammad kembali tertekan karena beberapa waktu setelah itu terjadi kekosongan turunya ayat. Keraguan dan gelisah kembali menyelimuti Muhammad. Di rumah, Muhammad meminta istrinya menyelimuti badannya karena menggigil bercampur dengan perasaan was-was. Belum juga reda perasaan Muhammad, kembali terdengar suara yang menurut riwayat itu adalah suara malaikat Jibril. “Wahai kau yang berselimut!. Bangkit dan berilah peringatan,” demikian wahyu keduanya turun.

Pertanyaannya adalah apakah kita harus mencari gua untuk merenung sebagaimana yang dilakukan Muhammad saw. Menurut hemat pikir saya proses perenungan saat ini tidak perlu mencari gua atau bukit apalagi di gunung. Sepertiga malam terakhir sepertinya lebih masuk akal dan realistis untuk dilakukan. Aktivitas sujud, dzikir dan pelepasan jiwa yang tepat seperti cukup logis untuk kondisi saat ini daripada harus pergi ke gua, lembah ataupun gunung. Tempat seperti pegunungan, lembah tetap bisa kita lakukan tapi tidak berlebihan.

Selanjutnya adalah hijrah, dimana kegiatan ini dilakukan oleh Muhammad saw bukan tanpa perencanaan. Menurut Philip, Muhammad telah merencanakan kegiatan ini selama kurang lebih dua tahun lamanya. Fakta ini membantah sebagian orang yang selalu beranggapan bahwa perencanaan itu tidak perlu. Selama dua tahun inilah, Muhammad saw mempersiapkan strategi, mulai dari pemilihan waktu, tempat, cuaca, teknis pemberangkatan hingga job description (pembagian kerja) untuk pengikutnya.

Philip menyebutkan ada 200 pengikut Muhamamad yang ikut hijrah ke Madinah. Mereka pergi secara diam-diam menyusuri padang pasir. Muhammad saw sendiri pergi menyusul dan tiba di Madinah pada 24 Septmber 622. Di Madinah, Muhammad sudah menempatkan dan ditunggu oleh penduduk pribumi dan sebagian pengikutnya yang lebih awal tiba. Perisitwa hijrah inilah titik balik kehidupan Muhammad saw setelah menjadi nabi. Dimana penduduk Mekkah khususnya kaum Quraisy sebelumnya menghina, mencaci, mengejar dan bermaksud membunuh Muhammad karena ideology yang dibawa Muhammad dinilai cukup menganggu.

Periode Madinah inilah, nabi mulai menata kehidupan sosial politik ummat. Beberapa tahun kemudian yaitu pada akhir Januari 630 M atau 8 Hijriyah, umat Islam yang dipimpin Muhammad berhasil menaklukan kota Mekkah. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Futtuh Mekkah yang menggelorakan semangat dakwah para pengikutnya sekaligus menciutkan nyali musuh-musuh Muhammad saw. Ketika memasuki Ka’bah, Muhammad menghancurkan seluruh berhala yang berjumlah 360 buah seraya mengatakan kepada penduduk Mekkah. “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna!.

Yang menarik adalah Muhammad tidak melakukan balas dendam terhadap orang-orang yang dulu pernah memusuhi. Muhammad memberikan kesempatan musuhnya untuk berpikir dan memperlakukan dengan penuh kebaikan. Tidak ada kemenangan militer dramatis seperti yang terjadi pada penaklukan kota Mekkah oleh Muhammad saw. Itulah sejarah tauladan umat Islam yang ditulis oleh orang-orang yang jujur mengakui kehebatan Muhammad saw. Sejarah ini pula yang mestinya jadi insipirasi kita semua untuk berbuat. Merenung dan hijrah menjadi awal perubahan apapun agar menjadi lebih baik. Hijrah bukanlah perindahan fisik semata atau pelarian semata, tapi sebuah program yang penuh dengan rencana yang fokus, detil dan matang. ***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kemiskinan Jangan Dirasa


“Meskipun saya tergolong keluarga miskin tapi tidak mau merasakan kemiskinan. Hidup harus berubah menjadi lebih baik dan sejahtera dari apa yang ada saat in”. Itulah kalimat yang diungkapkan oleh Sobri, mahasiswa ISIP Jakarta kepada saya.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Mendengar kalimat di atas saya tertegun dan kagum karena kalimat di atas keluar dari mulut seorang anak, yang kebetulan secara ekonomi kurang beruntung. Sobri (20) adalah alumni SMA Al-Irsyad, Desa Sukadalam, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Kini, di tahun 2009 Sobri sudah sudah bisa menikmati perkuliahan di Institut Sosial Ilmu Politik (ISIP), Jakarta dan mengambil jurusan Administrasi Niaga. Apa yang diutarakan Sobri selayaknya menjadi pemicu bagi generasi muda untuk senantiasa optimis dalam meniti kehidupan. Dunia bergerak dan berputar sambil membawa orang-orang yang mau diajak bergerak. Tentunya, bergerak ke arah yang lebih baik.

Optimisme memang bisa mengalahkan semua krikil-krikil yang mengganggu potensi positif diri. Optimisme juga mampu melahirkan karya-karya luar biasa dan mengaggumkan. Sayangnya, stimulus jiwa ini sering luput dari penjagaan sehingga pesimisme mendominasi hati dan jiwa. Keberhasilan seseorang diawali dengan optimisme, karena dari sinilah otak dan pikiran kita akan digerakan menjadi kreatif dalam memecahkan persoalan-persoalan rumit.

Tak heran harian Kompas di ulang tahunnya ke-44 di tahun 2009 pun mengangkat tema besarnya dengan judul membangun optimisme, seperti yang ditulis pada edisi Selasa (22/6) pada halaman pertama. Tulisan yang digoreskan oleh Ninok Leksono tersebut mengangkat tema besar membangun optimisme dengan tema ekonomi inovasi.

Dalam tulisan tersebut, Ninok mengutip pemikiran dari James Canton yang mengatakan bahwa ekonomi inovasi merupakan perjumpaan antara ekonomi, demokrasi, perdagangan dan teknologi. Yang menguasai seni dan sinergi bidang-bidang tersebut dakan menguasai kepemimpinan dunia, produktivitas bisnis, dan kesejahteraan individu.

Begitu dahsyatnya dampak optimisme terhadap kemajuan dan perubahan seseorang maka sudah selayaknya menjadi perisai. Apa yang diutarakan oleh Sobri menjadi inspirasi bagi anak-anak yang senasib. ***



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fir'aun di Laptop


Banyak cerita di dunia ini, semenjak zaman dahulu kala Bagi manusia yang banyak dosa di azab Allah Lihatlah Fir’aun, manusia yang sombong di tenggelamkan di lautan dalam Kaum Nabi Luth dan Kota Pompaii Telah hancur lebur tinggal jejaknya.

Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia


Kalimat di atas adalah penggalan lirik lagu anak-anak yang menceritakan tentang Fir’aun dan kaum Nabi Luth. Dalam kepingan CD tersebut, digambarkan secara umum bukti-bukti kekuasaan Allah SWT yang menenggelamkan Fir’aun di laut dan hancurnya Kota Pompaii serta musibah yang menimpa kaum Nabi Luth.

Fir’aun adalah gelar raja Mesir ketika dulu. Nah, dalam kisahnya, Ramses II atau Fir’aun yang sombong hingga pada klimaksnya, Fir’aun mengaku sebagai Tuhan bagi masyarakat saat itu. Nabi Musa yang hidup di zamannya pun diperintahkan untuk mengingatkan Fir’aun, tapi Ramses II ini justru memusuhi Musa dan ummatnya. Bahkan, Fir’aun mengejar Musa dan pengikutnya ketika mereka hendak pergi dari negeri tersebut. Singkat cerita, pada saat menemui jalan buntu para pengikut Musa bingung bahkan ada sebagian dari mereka terkesan menyesal, mengikuti ajaran Musa.

Di luar dugaan, munculah mukjizat dari Allah SWT berupa kekuatan tongkat Musa yang mampu membelah laut hingga akhirnya Musa dan pengikutnya bisa melewati jalan buntu tersebut. Fir’aun dan pengikutnya pun hendak mengejar tapi ketika berada di tengah belahan laut, Allah SWT kembali menyatukan belahan laut sehingga Fir’aun dan pengikutnya tenggelam. Aneh, jasad Fir’aun diselamatkan oleh Allah dan terdampak di pinggir laut hingga akhirnya dibuat mumi.

Pada kisah selanjutnya, Kota Pompaii ditimpahkan musibah berupa hujan api dan gempat bumi hingga kota tersbut hanya menyisakan bangunan-bangunan, yang sudah hancur lebur. Manusia penghuni kota tersebut pun menjadi batu dan hancur akibat dahsyatnya musibah tersebut. Kota Pompaii di zamannya terkenal makmur dan keindahan kotanya. Tapi sayangnya penduduk Pompaii memiliki kebiasaan buruk yang dibenci Allah SWT, penduduk di kota ini gemar mengadu manusia secara sadis hingga lawannya tewas. Lawan yang tewas kemudian diberikan kepada srigala-srigala.

Kisah penuh hikmah yang terdapat di CD tersebut selalu menjadi menu keseharian Fadia, yang saat itu baru berumur 1 tahun 3 bulan. Biasanya, Fadia menonton kisah yang diperankan oleh Tupi dan Pingi-ping ini di laptop mungilnya. Yah, saya dan istri bangga melihat Fadia sudah mengenal laptop di usianya yang baru satu tahun tiga bulan. Meski belum lincah memahami fungsi keseluruhan dari laptop warna hitam tersebut, tapi kami merasa bangga karena Fadia sudah bisa memangku dan memencet beberapa tools di laptop, meski ia sendiri belum mengetahui fungsinya.

Setiap pagi, usai shalat subuh sekitar pukul 05.00 WIB, Fadia biasanya bangun dan langsung meminta diambilkan laptop. Sore harinya, usai shalat ashar pun Fadia meminta diambilkan laptop dan langsung minta diputarkan film kisah-kisah insipiratif. Betul-betul perkembangan Fadia cukup membanggakan, ini pula yang kemudian menancapkan cita-cita besar saya akan sosok Fadia dewasa nanti, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya. Muslimah yang memiliki akidah kuat, wawasan luas, sejuk dan menenangkan serta muslimah yang mampu menyampaikan agama sesuai dengan bahasa kaummnya. Selamat meraih cita-cita nak, semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sekeluarga, amin. *****

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

90% Kesuksesan Bukan dari IQ


Kamu itu anak goblok, jendel dan tolol, lihat anak lain pintar semua, kenapa kamu tidak bisa. Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia

Kalimat di atas sering saya dari orangtua ketika mendapatkan nilai akademik anaknya tidak memuaskan. Sepintas ini hal yang biasa dan dianggap lumrah tapi ternyata sangat mengganggu mental si anak. Selain itu, cara tersebut jelas tidak dibenarkan baik ditinjau dari aspek ilmiah maupun agama.

Fakta di lapangan, masih banyak orangtua yang memberikan stigma buruk kepada anak-anaknya ketika nilai akademiknya jelek. Padahal menurut Daniel Goleman, penulis buku kecerdasan emosi yang juga ahli psikologi, bahwa IQ hanya menyumbangkan 5-10% kesuksesan seseorang, sedangkan sisanya yang 90 persen ada di kecerdasan emosional dan spiritual. Sebuah fakta yang mengaggetkan saya atau mungkin anda sendiri. Maklum, selama ini kita hanya ditekan untuk menjadi orang cerdas akademik. Padahal, ada potensi kecerdasan emosional dan spiritual yang kita miliki tapi tidak pernah dikenalkan kepada kita.

Saya masih ingat saat masih SMP sekitar tahun 1993 lalu, guru matematika dan fisika saya selalu memberikan hukuman fisik kepada siswa yang nilai lima. Kedua guru ini hanya memuji siswa yang pandai matematika dan mereka selalu mendapat perhatian penuh. Jika mengingat semua itu, sakit hati ini, karena ternyata guru yang mestinya menjadi fasilitator justru menghancurkannya mental siswa sendiri.

Kisah yang mirip juga terjadi di daerah lain, diantaranya kisah yang ditulis oleh Taufik Pasiak, penulis buku revolusi IQ/EQ/SQ dari Manado. Dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado, ini menceritakan kekecewaan seorang siswa di salah satu sekolah di Manado ketika menanyakan kepada salah seorang gurunya soal kecerdasan. Dalam buku tersebut, siswa itu bertanya kepada sang guru, siapakah yang lebih pintar, Albert Einstein atau Mike Tyson?, Rudi Hartono atau BJ.Habibi.

Mendengar pertanyaan siswa tersebut, sang guru tidak memberikan jawaban yang tidak memuaskan, karena hanya dijawab mana mungkin orang tersebut disamakan. Sang siswa sendiri adalah pemain basket terkenal yang mengharumkan nama sekolahnya. Sang siswa merasa tidak dianggap cerdas dan pantas oleh guru sehingga jawabannya terkesan menyepelekan.

Pemahaman sang guru yang menganggap siswa pemain basket sepertinya perlu diluruskan supaya tidak ada korban selanjutnya. Menurut Paul Stoltz dalam bukunya yang berjudul Adversity Question, kunci kesuksesan ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya kinerja, bakat, kemauan, karakter, kesehatan dan keyakinan.

Nah, mulai sekarang hilangkan dan lenyapkan dari pikiran kita untuk memberikan stigma buruk kepada anak-anak kita, karena kecerdasan akademik hanya 5-10% menentukan kesuksesan. ***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hidup Adalah Pilihan


Setiap detik, hari, bulan dan tahun, kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Yah, pilihan yang terkadang membingungkan karena sebagai mahluk yang memiliki nafsu. Padahal, salah memilih berarti wajah dan nasib kita akan berubah.


Oleh Abu Hazimah Ayu

Fadia


Sabtu, 20 Juni 2009 sekitar pukul 13.00 WIB, secara tidak sengaja saya membaca sebuah buku yang sudah dua mingguan diacuhkan. Syukurnya, masih ada lipatan buku sebagai pertanda batas akhir halaman yang saya baca beberapa waktu lalu.

Lembar demi lembar buku berjudul Room to Read yang ditulis oleh mantan eksekutif muda di Microsoft, Amerika Serikat, John Wood, saya baca dan telaah secara perlahan. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa dan salah satunya adalah bahasa Indonesia, ini cukup menarik dan insipiratif terutama bagi sesorang yang memiliki rasa kemanusiaan soal nasib anak-anak di pelosok daerah yang memiliki keterbatasan akses informasi.

Di dalam buku setebal 385 halaman ini, Jhon menceritakan pergolakan dan proses penjelamaan dirinya dari salah satu pimpinan di Microsoft menjadi aktivis sosial, setelah berhenti di perusahaan milik Bilgates tersebut. Jhon yang berhasil meraih Academy for Educational Development “Breakthrough Ideas in Education” Award 2007, ini nekat meninggalkan karirnya di Microsoft dan aktif pada kegiatan non profit yang bergerak di bidang pendidikan dan berhasil membangun 7.000 perpustakaan di pelosok dunia (lebih lengkapnya baca bukunya yah).

Setelah membaca buku ini selama satu jam lebih, saya langsung mengambil laptop yang tersimpan di dalam lemari dan langsung memencet keyboard hitam mungil di laptop tersebut. Tampak istri dan Fadia anak pertama saya, masih lelap dengan tidur siangnya.

Membaca buku ini saya seperti diingatkan olah Jhon akan sebuah kata kunci yang berbunyi hidup adalah pilihan. Kata ini terlihat sederhana tapi berdampak luar biasa terhadap kehidupan yang kita jalani.

Pilihan-pilihan selalu ada di depan mata setiap detik dan hari. Memilih jodoh, pekerjaan, tempat tinggal termasuk aktivitas keseharian merupakan pilihan yang selalu ada dihadapkan seseorang, yang terkadang membingungkan. Pilihan yang saya maksud bukanlah pilihan antara keburukan dengan kebaikan, bukanlah syurga dengan neraka karena kalau ini sudah jelas dan tidak perlu memilih termasuk efeknya terhadap diri kita juga sudah jelas.

Yang ingin saya katakan di sini adalah pilihan dimana kita dihadapkan pada dua kebaikan atau lebih, bukan pilihan antara kebaikan dengan keburukan. Apa yang dialami oleh Jhon merupakan salah satu contoh seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama baik yaitu apakah akan tetap bekerja di perusahaan raksasa dengan segala fasilitas yang diterima, atau menjadi aktifis sosial dengan mendirikan perpustakaan di pelosok dunia dengan konsekuensi harus rela meninggalkan fasilitas dari perusahaan.

Soal pilihan, ustad Ulil dalam sebuah kajian di salah satu masjid di Kota Serang, Provinsi Banten, mengungkapkan keherananya kepada sebagian orang ketika dihadapkan pada pilihan baik dan buruk. Pria yang pernah mengenyam perkulihan di negara Arab ini, menceritakan sahabiah Nabi Muhammad Saw, ketika diminta untuk memilih apakah bisa bersabar menerima penyakit ayan tapi dijamin masuk syurga atau minta nabi mendoakan agar penyakitnya sembuh, tapi belum ada jaminan masuk surga karena kemungkinan akan terjemus ke dalam orang-orang yang tidak bersyukur.

Sahabiah tadi akhirnya memilih sabar demi masuk syurga daripada memilih minta didoakan sembuh, tapi belum ada jaminan masuk syurga dengan alasan yang nabi sebutkan di atas. “Wong dijamin masuk syurga kok ragu, buat apa menimbang-nimbang atau shalat istikharah, kan pilihannya masuk syurga,” kata ustad Ulil.

Begitulah manusia, terkadang salah menempatkan sikap dan keputusan. Sesuatu yang sudah baik masih ditimbang tapi hal yang buruk dilakukan tanpa pertimbangan. Apa yang dilakukan oleh Jhon dan cerita ustad Ulil bisa menjadi bahan perenungan dalam menjalani bahtera kehidupan supaya hidup lebih baik.

Jangan dibingungkan oleh pilihan buruk dengan kebaikan, tapi jangan ragu pula untuk memilih sesuatu yang lebih baik meski secara materi sedikit. ****

Kota Serang-Banten, Sabtu, 20 Juni 2009

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mencari Makna 2 Tahun


Membaca surat Al-Baqarah ayat 233 di dalam kitab suci Al-Quran, rasa penasaran dan keingintahuan saya terusik. Apa sesungguhnya makna dari pesan yang ingin Allah SWT sampaikan kepada hamba-Nya. Kenapa seorang ibu diminta untuk menyusui anaknya hingga dua tahun lamanya, pasti ada sesuatu di dalam kalimat ini.


Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia


Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempuranakan penyusuannya. Demikian salah satu penggalan ayat di dalam surat Al-Baqarah ayat 233, yang saya temukan saat mencari ayat yang berbicara tentang pendidikan anak. Ayat ini secara tidak sengaja saya temukan karena sebelumnya tidak menyangka kalau ternyata Al-Quran berbicara sedetil ini.

Usai membaca ayat ini, proses pencarian makna di balik kenapa Allah SWT memerintahkan ibu untuk menyusui anak hingga usia dua tahun pun saya lakukan. Ada beberapa aspek yang ingin saya ketahui dari ayat ini, yaitu aspek kesehatan, psikologi dan pengaruhnya terhadap kecerdasan anak.

Malam sekira pukul 23.00 WIB, proses pencarian di perpustakaan pribadi pun saya lakukan. Pertama kali buku yang saya buka berjudul

“Kado menyambut si buah hati karangan Ibnu Qayyim Al-Jauziah, yang diterjemahkan oleh Mahfud Hidayat dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar”. Lembar demi lembar, bab demi bab saya buka buku tersebut tapi tidak saya temukan pembahasan detil terkait makna perintah untuk menyusui anak hingga dua tahun.

Dalam buku setebal 491 halaman dan cover warna kuning ini, hanya mengatakan bahwa menyusui hingga 2 tahun adalah hak anak tanpa ada penjelasan detil efek positif bagi si anak itu sendiri. Pembahasan yang terdapat di halaman 387 ini menambah penasaran saya untuk membaca buku lainnya.

Beberapa saat kemudian saya pun membaca kembali buku tentang pendidikan anak. Kali ini buku karangan Imam Musbikin yang berjudul “persiapan menghadapi persalinan”. Ternyata di buku ini pun hanya dijelaskan jika seorang ibu yang menyusui dapat menjarangkan kehamilan. Dalam buku setebal 481 halaman ini hanya menjelaskan penelitian John Bonggarts dan Arudh Jain dari Word Fertility Survey (WFS), terkait penelitiannya di 8 negara yaitu Indonesia, Bangladesh, Colombia, Guyana, Yordan, Panamana, Peru dan Srilanka. Dalam penelitian tersebut menunjukan bahwa wanita berpendidikan cenderung menyusui bayinya dengan periode yang lebih pendek jika dibandingkan dengan wanita yang tinggal di desa dan tidak berpendidikan.

Dalam penelitian itu juga disebutkan bahwa menyusui berarti memperpanjang waktu menstruasi setelah melahirkan. Di Indonesia misalnya, ibu yang menyusui bayinya dapat memperpanjang waktu kehamilan berikutnya. Jarak melahirkan sampai hamil lagi berkisar antara 4-10 tahun.

Kedua buku ini tidak ada yang menjelaskan detil yang didasarkan kajian ilmiah, apa efek positif dari perintah Quran untuk menyusui hingga dua tahun. Baik dari aspek kesehatan, psikologi maupun kecerdasan.

Proses pencairan makna menyusui dua tahun ini pun berlanjut ke perpustakaan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Serang dan Provinsi Banten. Hingga tiga minggu lebih makna dua tahun itu belum saya dapatkan sampai saya menulis ini pada hari Senin, 8 Juni 2009 sekitar pukul 24.00 WIB.

Alasan saya kenapa ingin tahu makna ayat ini adalah keyakinan bahwa ayat ini tidak mungkin diturunkan Allah SWT, tanpa makna apapun. Kalimat ini pasti ada maknanya, demikian keyakinan yang ada di dalam hati saya hingga saat ini. Proses pencairan makna dua tahun menyusui ini masih akan terus dilakukan. ***

(Kota Serang, Senin, 8 Juni 2009, pukul 24.00 WIB)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS