“Meskipun saya tergolong keluarga miskin tapi tidak mau merasakan kemiskinan. Hidup harus berubah menjadi lebih baik dan sejahtera dari apa yang ada saat in”. Itulah kalimat yang diungkapkan oleh Sobri, mahasiswa ISIP Jakarta kepada saya.
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Mendengar kalimat di atas saya tertegun dan kagum karena kalimat di atas keluar dari mulut seorang anak, yang kebetulan secara ekonomi kurang beruntung. Sobri (20) adalah alumni SMA Al-Irsyad, Desa Sukadalam, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Kini, di tahun 2009 Sobri sudah sudah bisa menikmati perkuliahan di Institut Sosial Ilmu Politik (ISIP), Jakarta dan mengambil jurusan Administrasi Niaga. Apa yang diutarakan Sobri selayaknya menjadi pemicu bagi generasi muda untuk senantiasa optimis dalam meniti kehidupan. Dunia bergerak dan berputar sambil membawa orang-orang yang mau diajak bergerak. Tentunya, bergerak ke arah yang lebih baik.
Optimisme memang bisa mengalahkan semua krikil-krikil yang mengganggu potensi positif diri. Optimisme juga mampu melahirkan karya-karya luar biasa dan mengaggumkan. Sayangnya, stimulus jiwa ini sering luput dari penjagaan sehingga pesimisme mendominasi hati dan jiwa. Keberhasilan seseorang diawali dengan optimisme, karena dari sinilah otak dan pikiran kita akan digerakan menjadi kreatif dalam memecahkan persoalan-persoalan rumit.
Tak heran harian Kompas di ulang tahunnya ke-44 di tahun 2009 pun mengangkat tema besarnya dengan judul membangun optimisme, seperti yang ditulis pada edisi Selasa (22/6) pada halaman pertama. Tulisan yang digoreskan oleh Ninok Leksono tersebut mengangkat tema besar membangun optimisme dengan tema ekonomi inovasi.
Dalam tulisan tersebut, Ninok mengutip pemikiran dari James Canton yang mengatakan bahwa ekonomi inovasi merupakan perjumpaan antara ekonomi, demokrasi, perdagangan dan teknologi. Yang menguasai seni dan sinergi bidang-bidang tersebut dakan menguasai kepemimpinan dunia, produktivitas bisnis, dan kesejahteraan individu.
Begitu dahsyatnya dampak optimisme terhadap kemajuan dan perubahan seseorang maka sudah selayaknya menjadi perisai. Apa yang diutarakan oleh Sobri menjadi inspirasi bagi anak-anak yang senasib. ***
Banyak cerita di dunia ini, semenjak zaman dahulu kalaBagi manusia yang banyak dosa di azab Allah Lihatlah Fir’aun, manusia yang sombong di tenggelamkan di lautan dalamKaum Nabi Luth dan Kota Pompaii Telah hancur lebur tinggal jejaknya.
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Kalimat di atas adalah penggalan lirik lagu anak-anak yang menceritakan tentang Fir’aun dan kaum Nabi Luth. Dalam kepingan CD tersebut, digambarkan secara umum bukti-bukti kekuasaan Allah SWT yang menenggelamkan Fir’aun di laut dan hancurnya Kota Pompaii serta musibah yang menimpa kaum Nabi Luth.
Fir’aun adalah gelar raja Mesir ketika dulu. Nah, dalam kisahnya, Ramses II atau Fir’aun yang sombong hingga pada klimaksnya, Fir’aun mengaku sebagai Tuhan bagi masyarakat saat itu. Nabi Musa yang hidup di zamannya pun diperintahkan untuk mengingatkan Fir’aun, tapi Ramses II ini justru memusuhi Musa dan ummatnya. Bahkan, Fir’aun mengejar Musa dan pengikutnya ketika mereka hendak pergi dari negeri tersebut. Singkat cerita, pada saat menemui jalan buntu para pengikut Musa bingung bahkan ada sebagian dari mereka terkesan menyesal, mengikuti ajaran Musa.
Di luar dugaan, munculah mukjizat dari Allah SWT berupa kekuatan tongkat Musa yang mampu membelah laut hingga akhirnya Musa dan pengikutnya bisa melewati jalan buntu tersebut. Fir’aun dan pengikutnya pun hendak mengejar tapi ketika berada di tengah belahan laut, Allah SWT kembali menyatukan belahan laut sehingga Fir’aun dan pengikutnya tenggelam. Aneh, jasad Fir’aun diselamatkan oleh Allah dan terdampak di pinggir laut hingga akhirnya dibuat mumi.
Pada kisah selanjutnya, Kota Pompaii ditimpahkan musibah berupa hujan api dan gempat bumi hingga kota tersbut hanya menyisakan bangunan-bangunan, yang sudah hancur lebur. Manusia penghuni kota tersebut pun menjadi batu dan hancur akibat dahsyatnya musibah tersebut. Kota Pompaii di zamannya terkenal makmur dan keindahan kotanya. Tapi sayangnya penduduk Pompaii memiliki kebiasaan buruk yang dibenci Allah SWT, penduduk di kota ini gemar mengadu manusia secara sadis hingga lawannya tewas. Lawan yang tewas kemudian diberikan kepada srigala-srigala.
Kisah penuh hikmah yang terdapat di CD tersebut selalu menjadi menu keseharian Fadia, yang saat itu baru berumur 1 tahun 3 bulan. Biasanya, Fadia menonton kisah yang diperankan oleh Tupi dan Pingi-ping ini di laptop mungilnya. Yah, saya dan istri bangga melihat Fadia sudah mengenal laptop di usianya yang baru satu tahun tiga bulan. Meski belum lincah memahami fungsi keseluruhan dari laptop warna hitam tersebut, tapi kami merasa bangga karena Fadia sudah bisa memangku dan memencet beberapa tools di laptop, meski ia sendiri belum mengetahui fungsinya.
Setiap pagi, usai shalat subuh sekitar pukul 05.00 WIB, Fadia biasanya bangun dan langsung meminta diambilkan laptop. Sore harinya, usai shalat ashar pun Fadia meminta diambilkan laptop dan langsung minta diputarkan film kisah-kisah insipiratif. Betul-betul perkembangan Fadia cukup membanggakan, ini pula yang kemudian menancapkan cita-cita besar saya akan sosok Fadia dewasa nanti, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya. Muslimah yang memiliki akidah kuat, wawasan luas, sejuk dan menenangkan serta muslimah yang mampu menyampaikan agama sesuai dengan bahasa kaummnya. Selamat meraih cita-cita nak, semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sekeluarga, amin. *****
Kamu itu anak goblok, jendel dan tolol,lihat anak lain pintar semua,kenapa kamu tidak bisa.Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Kalimat di atas sering saya dari orangtua ketika mendapatkan nilai akademik anaknya tidak memuaskan. Sepintas ini hal yang biasa dan dianggap lumrah tapi ternyata sangat mengganggu mental si anak. Selain itu, cara tersebut jelas tidak dibenarkan baik ditinjau dari aspek ilmiah maupun agama.
Fakta di lapangan, masih banyak orangtua yang memberikan stigma buruk kepada anak-anaknya ketika nilai akademiknya jelek. Padahal menurut Daniel Goleman, penulis buku kecerdasan emosi yang juga ahli psikologi, bahwa IQ hanya menyumbangkan 5-10% kesuksesan seseorang, sedangkan sisanya yang 90 persen ada di kecerdasan emosional dan spiritual. Sebuah fakta yang mengaggetkan saya atau mungkin anda sendiri. Maklum, selama ini kita hanya ditekan untuk menjadi orang cerdas akademik. Padahal, ada potensi kecerdasan emosional dan spiritual yang kita miliki tapi tidak pernah dikenalkan kepada kita.
Saya masih ingat saat masih SMP sekitar tahun 1993 lalu, guru matematika dan fisika saya selalu memberikan hukuman fisik kepada siswa yang nilai lima. Kedua guru ini hanya memuji siswa yang pandai matematika dan mereka selalu mendapat perhatian penuh. Jika mengingat semua itu, sakit hati ini, karena ternyata guru yang mestinya menjadi fasilitator justru menghancurkannya mental siswa sendiri.
Kisah yang mirip juga terjadi di daerah lain, diantaranya kisah yang ditulis oleh Taufik Pasiak, penulis buku revolusi IQ/EQ/SQ dari Manado. Dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado, ini menceritakan kekecewaan seorang siswa di salah satu sekolah di Manado ketika menanyakan kepada salah seorang gurunya soal kecerdasan. Dalam buku tersebut, siswa itu bertanya kepada sang guru, siapakah yang lebih pintar, Albert Einstein atau Mike Tyson?, Rudi Hartono atau BJ.Habibi.
Mendengar pertanyaan siswa tersebut, sang guru tidak memberikan jawaban yang tidak memuaskan, karena hanya dijawab mana mungkin orang tersebut disamakan. Sang siswa sendiri adalah pemain basket terkenal yang mengharumkan nama sekolahnya. Sang siswa merasa tidak dianggap cerdas dan pantas oleh guru sehingga jawabannya terkesan menyepelekan.
Pemahaman sang guru yang menganggap siswa pemain basket sepertinya perlu diluruskan supaya tidak ada korban selanjutnya. Menurut Paul Stoltz dalam bukunya yang berjudul Adversity Question, kunci kesuksesan ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya kinerja, bakat, kemauan, karakter, kesehatan dan keyakinan.
Nah, mulai sekarang hilangkan dan lenyapkan dari pikiran kita untuk memberikan stigma buruk kepada anak-anak kita, karena kecerdasan akademik hanya 5-10% menentukan kesuksesan. ***
Setiap detik,hari, bulan dan tahun, kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Yah, pilihan yang terkadang membingungkankarena sebagai mahluk yang memiliki nafsu. Padahal, salah memilih berarti wajah dan nasib kita akan berubah.
Oleh Abu Hazimah Ayu
Fadia
Sabtu, 20 Juni 2009 sekitar pukul 13.00 WIB, secara tidak sengaja saya membaca sebuah buku yang sudah dua mingguan diacuhkan. Syukurnya, masih ada lipatan buku sebagai pertanda batas akhir halaman yang saya baca beberapa waktu lalu.
Lembar demi lembar buku berjudul Room to Read yang ditulis oleh mantan eksekutif muda di Microsoft, Amerika Serikat, John Wood, saya baca dan telaah secara perlahan. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa dan salah satunya adalah bahasa Indonesia, ini cukup menarik dan insipiratif terutama bagi sesorang yang memiliki rasa kemanusiaan soal nasib anak-anak di pelosok daerah yang memiliki keterbatasan akses informasi.
Di dalam buku setebal 385 halaman ini, Jhon menceritakan pergolakan dan proses penjelamaan dirinya dari salah satu pimpinan di Microsoft menjadi aktivis sosial, setelah berhenti di perusahaan milik Bilgates tersebut. Jhon yang berhasil meraih Academy for Educational Development “Breakthrough Ideas in Education” Award 2007, ini nekat meninggalkan karirnya di Microsoft dan aktif pada kegiatan non profit yang bergerak di bidang pendidikandan berhasil membangun 7.000 perpustakaan di pelosok dunia (lebih lengkapnya baca bukunya yah).
Setelah membaca buku ini selama satu jam lebih, saya langsung mengambil laptop yang tersimpan di dalam lemaridan langsung memencet keyboard hitam mungil di laptop tersebut. Tampak istri dan Fadia anak pertama saya, masih lelap dengan tidur siangnya.
Membaca buku ini saya seperti diingatkan olah Jhon akan sebuah kata kunci yang berbunyi hidup adalah pilihan. Kata ini terlihat sederhana tapi berdampak luar biasa terhadap kehidupan yang kita jalani.
Pilihan-pilihan selalu ada di depan mata setiap detik dan hari. Memilih jodoh, pekerjaan, tempat tinggal termasuk aktivitas keseharian merupakan pilihan yang selalu ada dihadapkan seseorang, yang terkadang membingungkan. Pilihan yang saya maksud bukanlah pilihan antara keburukan dengan kebaikan, bukanlah syurga dengan neraka karena kalau ini sudah jelas dan tidak perlu memilih termasuk efeknya terhadap diri kita juga sudah jelas.
Yang ingin saya katakan di sini adalah pilihan dimana kita dihadapkan pada dua kebaikan atau lebih, bukan pilihan antara kebaikan dengan keburukan. Apa yang dialami oleh Jhon merupakan salah satu contoh seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama baik yaitu apakah akan tetap bekerja di perusahaan raksasa dengan segala fasilitas yang diterima, atau menjadi aktifis sosial dengan mendirikan perpustakaan di pelosok dunia dengan konsekuensi harus rela meninggalkan fasilitas dari perusahaan.
Soal pilihan, ustad Ulil dalam sebuah kajian di salah satu masjid di Kota Serang, Provinsi Banten, mengungkapkan keherananya kepada sebagian orang ketika dihadapkan pada pilihan baik dan buruk. Pria yang pernah mengenyam perkulihan di negara Arab ini, menceritakan sahabiah Nabi Muhammad Saw, ketika diminta untuk memilih apakah bisa bersabar menerima penyakit ayan tapi dijamin masuk syurga atau minta nabi mendoakan agar penyakitnya sembuh, tapi belum ada jaminan masuk surga karena kemungkinan akan terjemus ke dalam orang-orang yang tidak bersyukur.
Sahabiah tadi akhirnya memilih sabar demi masuk syurga daripada memilih minta didoakan sembuh, tapi belum ada jaminan masuk syurga dengan alasan yang nabi sebutkan di atas. “Wong dijamin masuk syurga kok ragu, buat apa menimbang-nimbang atau shalat istikharah, kan pilihannya masuk syurga,” kata ustad Ulil.
Begitulah manusia, terkadang salah menempatkan sikap dan keputusan. Sesuatu yang sudah baik masih ditimbang tapi hal yang buruk dilakukan tanpa pertimbangan. Apa yang dilakukan oleh Jhon dan cerita ustad Ulil bisa menjadi bahan perenungan dalam menjalani bahtera kehidupan supaya hidup lebih baik.
Jangan dibingungkan oleh pilihan buruk dengan kebaikan, tapi jangan ragu pula untuk memilih sesuatu yang lebih baik meski secara materi sedikit. ****
Membaca surat Al-Baqarah ayat 233 di dalam kitab suci Al-Quran, rasa penasaran dan keingintahuan saya terusik. Apa sesungguhnya makna dari pesan yang ingin Allah SWT sampaikan kepada hamba-Nya. Kenapa seorang ibu diminta untuk menyusui anaknya hingga dua tahun lamanya, pasti ada sesuatu di dalam kalimat ini.
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempuranakan penyusuannya. Demikian salah satu penggalan ayat di dalam surat Al-Baqarah ayat 233, yang saya temukan saat mencari ayat yang berbicara tentang pendidikan anak. Ayat ini secara tidak sengaja saya temukan karena sebelumnya tidak menyangka kalau ternyata Al-Quran berbicara sedetil ini.
Usai membaca ayat ini, proses pencarian makna di balik kenapa Allah SWT memerintahkan ibu untuk menyusui anak hingga usia dua tahun pun saya lakukan. Ada beberapa aspek yang ingin saya ketahui dari ayat ini, yaitu aspek kesehatan, psikologi dan pengaruhnya terhadap kecerdasan anak.
Malam sekira pukul 23.00 WIB, proses pencarian di perpustakaan pribadi pun saya lakukan. Pertama kali buku yang saya buka berjudul
“Kado menyambut si buah hati karangan Ibnu Qayyim Al-Jauziah, yang diterjemahkan oleh Mahfud Hidayat dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar”. Lembar demi lembar, bab demi bab saya buka buku tersebut tapi tidak saya temukan pembahasan detil terkait makna perintah untuk menyusui anak hingga dua tahun.
Dalam buku setebal 491 halaman dan cover warna kuning ini, hanya mengatakan bahwa menyusui hingga 2 tahun adalah hak anak tanpa ada penjelasan detil efek positif bagi si anak itu sendiri. Pembahasan yang terdapat di halaman 387 ini menambah penasaran saya untuk membaca buku lainnya.
Beberapa saat kemudiansaya pun membaca kembali buku tentang pendidikan anak. Kali ini buku karangan Imam Musbikin yang berjudul “persiapan menghadapi persalinan”. Ternyata di buku ini pun hanya dijelaskan jika seorang ibu yangmenyusui dapat menjarangkan kehamilan. Dalam buku setebal 481 halaman ini hanya menjelaskan penelitian John Bonggarts dan Arudh Jain dari Word Fertility Survey (WFS), terkait penelitiannya di 8 negara yaitu Indonesia, Bangladesh, Colombia, Guyana, Yordan, Panamana, Peru dan Srilanka. Dalam penelitian tersebut menunjukan bahwa wanita berpendidikan cenderung menyusui bayinya dengan periode yang lebih pendek jika dibandingkan dengan wanita yang tinggal di desa dan tidak berpendidikan.
Dalam penelitian itu juga disebutkan bahwa menyusui berarti memperpanjang waktu menstruasi setelah melahirkan. Di Indonesia misalnya, ibu yang menyusui bayinya dapat memperpanjang waktu kehamilan berikutnya. Jarak melahirkan sampai hamil lagi berkisar antara 4-10 tahun.
Kedua buku ini tidak ada yang menjelaskan detil yang didasarkan kajian ilmiah, apa efek positif dari perintah Quran untuk menyusui hingga dua tahun. Baik dari aspek kesehatan, psikologi maupun kecerdasan.
Proses pencairan makna menyusui dua tahun ini pun berlanjut ke perpustakaan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Serang dan Provinsi Banten. Hingga tiga minggu lebih makna dua tahun itu belum saya dapatkan sampai saya menulis ini pada hari Senin, 8 Juni 2009 sekitar pukul 24.00 WIB.
Alasan saya kenapa ingin tahu makna ayat ini adalah keyakinan bahwa ayat ini tidak mungkin diturunkan Allah SWT, tanpa makna apapun. Kalimat ini pasti ada maknanya, demikian keyakinan yang ada di dalam hati saya hingga saat ini. Proses pencairan makna dua tahun menyusui ini masih akan terus dilakukan. ***
(Kota Serang, Senin, 8 Juni 2009, pukul 24.00 WIB)
Keinginan menjadi orang baik ataupun menjadi orang sukses terkadang harus dipaksa. Tak heran banyak orangtua yang tidak sanggup mendidik anaknya menjadi orang besar, lantaran tidak mau memaksa anaknya untuk jadi orang besar.
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Dalam acara presiden pilihan di TvOne, Rabu, 20 Mei 2009 pukul 20.00 WIB, Muhammad Jusuf Kalla, bangsawan dari Bugis sekaligus Wakil Presiden Republik Indonesia yang mencalonkan menjadi Presiden 2009-2014, mengatakan, bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia mampu mengelola negara ini dengan baik dan tidak mesti menunggu campur tangan orang asing.
“Kita ini mampu tapi kemampuan ini harus kita paksa, karena kita sudah lama ditidurkan,” kata JK dengan ekspresi wajah yang serius. Pada acara yang audiensinya adalah para pengusaha, JK juga sempat mengkritik pengusaha yang masih menggunakan produk luar negeri.
“Bangsa ini akan maju manakala kata dan perbuatan sejalan dan seirama,” kata JK yang disambut tepuk tangan audiens. Kalau melihat pernyataan JKkita semua sepakat, karena di lapangan banyak kita temukan fakta tersebut.
Pernyataan JK ini bisa kita tarik dalam kontekskeluarga (jangan main tarik aja nih). Maksud saya begini, memberikan pendidikan kemandirian kepada anak pun terkadang harus ada “pemaksaan” supaya si anak menjadi terbiasa. Pemaksaan kemampuan ini akan menjadi pelajaran yang membekas kepadaanak ketika dewasa nanti.
Beberapa kali saya mendengar kisah orang-orang besar saat mereka masih kecil yang ternyata pemaksaan saat kecil masih teringat dan justru itulah yang membuat mereka sukses. Sebut saja Hidayat Nurwahid, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI) periode 2004-2009. Dalam sebuah acara di salah satu media, Hidayat menceritakan masa kecilnya yang diajarkan kedisiplinan oleh orangtuanya terutama soal shalat.
Pola pembelajaran seperti ini juga bisa kita terapkan dalam kehidupan keluarga. Sebagaimana dikatakan oleh JK bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi semua itu harus dipaksa karena bangsa kita lama ditidurkan oleh kemalasan.
Pemaksaan dalam konteks ini jangan diartikan dengan kekerasan seperti yang kita lihat dalam dunia militer. Pemaksaan disini maksudnya adalah memaksa untuk disiplin dalam segala hal, memaksa untuk menjadi orang baik, memaksa supaya hidup kita sukses. Nah, kalau disiplin ataupun kebaikan sudah menjadi kebiasaan anak sejak kecil maka Insya Allah si anak akan terbiasa dengan kedisiplinan dan kebaikan. Artinya kita sebagai orangtua sudah menanamkan benih kebaikan bagi si anak. ***
Pada dasarnya orang Indonesia itu kreatif, karena memang kondisinya yang memaksa untuk kreatif. Negara kita heterogen dan memiliki budaya, bahasa dan adat beragam wajar kalau kita menjadi kreatif.
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadia
Kalimat di atas adalah jawaban Leo seorang designer furniture Internasional yang sukses memasarkan hasil designnya ke beberapa mancanegara, seperti Eropa, Amerika, Australia, dan Asia, ketika ditanya oleh Andy F Noya pada acara Kick Andy edisi Jumat, 8 Mei 2009, sekitar pukul 22.00 WIB.
Jujur saya tersentak mendengar jawaban pria berkacamata ini. Maklum selama ini kita hanya mendengarkan dan melihat kabar miring seputar nasib bangsa ini yang lebih banyak negatifnya. Masalah deportasi TKI di Malaysia, seorang anak yang terpaksa bunuh diri karena tidak bisa membayar iuran sekolah, penanganan kasus korupsi yang lambat, PHK besar-besaran, seorang ibu yang membunuh bayi karena sudah tidak mampu memberikannya makan dan masalah-masalah lainnya, yang cenderung negatif dan membuat kita tidak percaya diri.
Jawaban Leo ini seolah angin segar yang datang di tengah kemarau panjang. Pada kesempatan itu pula, Leo juga membeberkan strategi marketingnya sehingga menjadi produk unggulan yang mendunia. Pria berkulit putin menyebutkan beberapa strateginya diantaranya memasarkan produknya ke luar negeriterlebih dahulu sebelum dipasarkan di dalam negeri. Loh kok bisa begitu?, tentu saja ini membuat penasaran kita. Menurut Leo yang saat itu membawa kursi hasil designernya, terkadang kita membutuhkan pengakuan dari Internasional terlebih dahulu sebelum di pasarkan ke dalam negeri, karena biasanya orang Indonesia akan tertarik dengan suatu produk manakala produk tersebut sudah diminati di luar negeri.
Apapun strateginya yang dipakai Leo, namun yang pasti pernyataan Le, perlu mendapat apresiasi dan tanggapan yang positif daribangsa Indonesia. Yah, paling tidak menjadi semangat kita sebagai rakyat Indonesia untuk memulihkan kepercayaan diri bangsa ini, yang lama terpuruk. “Apakah kita bisa bersaing dengan luar negeri?” tanya Andy untuk kesekian kalinya kepada Leo yang kemudian dijawab dengan jawaban singkat yaitu bisa.
Jawaban Leo ini dimantapkan dengan hadirnya Bambang Widyatmoko pada acara tersebut. Bambang adalah seorang peneliti yang berhasil mematenkan 30 penemuannya di negara Jepang setelah belajar di negara sakuraselama kurang lebih 13 tahun lamanya. Salah satu penemuan pria yang rambutnya sudah beruban ini adalah alat pencacah sinar laser.
Kini, Bambang kembali ke tanah air dan menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Jakarta, karena panggilan jiwa dan cita-cita ingin menularkan hasil temuannya tersebut. “Menyesal sih ada ketika kembali ke Indonesia, tapi saya ini kan disekolahkan oleh negara maka harus membangun negara sendiri,” kata Bambang ketika ditanya oleh Andy apakah tidak menyesal kembali ke Indonesia dengan gaji yang minim.
Maklum, di negara Jepang sendiri Bambang sudah memiliki perusahaan dengan omset yang luar biasa. Dukungan Jepang terhadap para peneliti membuat Bambang dan tentunya kita kagum serta bertanya, kapan Indonesia seperti Jepang.
Melihat dua orang yang tampil di Kick Andy itu, saya bertambah yakin dengan penegasan Leo bahwa orang Indonesia pada dasarnya kreatif. Cerita dua orang kreatif ini juga menjadi insipirasi saya untuk membuat tulisan ini, harapannya agar orang lain mengetahui dan memiliki semangat dan kepercayaan diri yang sama seperti dua orang di atas.
Selain itu, penampilan Leo dan Bambang menjadi inspirasi saya dan istri untuk memikirkan masa depan anak saya termasuk anak-anak Indonesia. Walaupun setelah saya membaca buku tentang biografi ilmuwan musim, sebetulnya orang-orang seperti Leo dan Bambang bukanlah sesuatu yang aneh dan baru bagi umat muslim, karena jaman dahulu para ilmuwan muslim juga sudah berhasil melakukan penelitan. Sebut saja Al-Khawarizmy, Al-Jabar dan Ibnu Sina, mereka adalah ilmuwan pada jamannya.
Kalau kita sudah membaca biografi peneliti muslim, rasanya ada sesuatu yang aneh dalam diri kita karena tidak mampu meniru yang baik dari para pendahulu (Ayolah mulai sekarang memikirkan masalah ini paling tidak untuk anak-anak kita).