Menjelang pemilihan presiden Juli 2009, ada sebuah kata yang menjadi perdebatan di kalangan politisi negeri ini. “Lebih cepat lebih baik”, demikian moto Jusuf Kalla yang berpasangan dengan Wiranto dan menaikan suhu perpolitikan.
Oleh Abu Hazimah Ayu Fadi
Moto inilah yang kemudian ditanggapi oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan menyatakan moto tersebut takabur. “Janganlah mengatakan saya ini lebih benar, lebih cepat atau lebih baik karena itu takabur namanya,” demikian tanggapan SBY dalam acara syukuran kemenangan Partai Demokrat di kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat.
Komentar SBY ini pun dibalas oleh JK dalam sebuah pertemuan dengan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin di Kantor Muhammadiyah Pusat, Jakarta. “Lebih cepat lebih baik itu sama dengan moto Muhammadiyah yaitu fastabihul khoirat, yang artinya berlomba-lomba dalam kebaikan, jadi bukan takabur,” kata JK.
Melihat perdebatan ini saya tergelitik untuk menulis soal berlomba-lomba kebaikan, tapi dalam konteks lingkungan keluarga karena di sinilah kemajuan negara bisa dilihat. Jika keluarga Indonesia sehat, damai, bahagia, sejahtera dan memiliki semangat berlomba-lomba dalam kebaikan maka efeknya juga akan berujung kepada nasib bangsa.
Nuansa kompetisi dalam keluarga menurut hemat saya juga perlu diciptakan, tujuannya agar anak-anak kita terbiasa dengan semangat kompetisi kebaikan. Semangat kompetisi ini penting ditanamkan kepada anak sejak dini.
Jika semangat kompetisi ini jadi kebiasaan di dalam keluarga, maka anak kita akan melakukan hal yang sama di luar rumah seperti di sekolah ataupun kantor. Sebagai salah satu contoh yang biasa kami lakukan adalah kompetisi mandi pagi.
Istri saya sering menyindir ketika ada salah satu anggota keluarga yang terlambat mandi atau bangun pagi. “Wah Abi kelewat sama Fadia yang sudah mandi pagi-pagi,” kata istri kepada saya saat Fadia lebih awal dimandi.
Ketika itu Fadia, anak pertama saya masih usia 8 bulan. Begitu juga saat saya berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik dan lebih cepat, maka saya akan mengatakan dengan bangga kepada istri dan anak saya tentang keberhasilan tersebut.
Kebiasaan kompetisi ini masih sering kita lakukan di dalam keluarga sampai saat ini. Meski terlihat sederhana tapi efek untuk si kecil cukup berarti terutama bagi perkembangan otak, fisik dan emosionalnya. ***







0 komentar:
Posting Komentar