Dunia Bukan Selembar Daun

Pada sebuah acara di salah satu televisi swasta sekitar Maret 2009, Syafei Antonio seorang pakar perekonomian syariah keturunan Tionghoa menyampaikan sebuah ilustrasi dan fakta yang menakjubkan tentang efek positif penerapan perbankan syariah di sejumlah negara.

Dalam acara itu, Syafei menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke Amerika Serikat, Jerman, Malaysia dan Eropa, yang intinya di negara-negara tersebut ternyata lebih awal menerapkan konsep syariah daripada Indonesia. Penjelasan Syafei yang disampaikan dengan tenang, lugas dan jelas membuat saya kagum sekaligus jadi inspirasi bahwa umat muslim memang harus memiliki pergaulan yang luas sehingga syiar Islam lebih menggema di seantaro dunia.


Seyogyanya memang kita sebagai orangtua mampu mengenalkan dunia kepada anak-anak sejak usianya dini. Ini penting untuk merangsang imajinasi positif anak sehingga akan menjadi perangsang otak anak untuk menatap dan memiliki cita-cita yang luas. Apalagi daya rekam otak anak masih cukup kuat untuk menerima gambar dari luar dirinya. Terlalu sayang rasanya, jika potensi anak itu dilewatkan tanpa ada upaya yang berarti apapun apalagi sampai dijejali dengan umpan yang negatif.


Lalu bagaimana cara memulai supaya anak kita kelak menjadi pribadi yang memiliki wawasan luas?. Beberapa cara sederhana bisa kita lakukan kepada anak kita, diantaranya mengenalkan anak dengan buku, majalah dan koran. Loh kok larinya sampai ke buku segala, apa hubungannya dengan pergaulan dan wawasan luas?. Eit, jangan ambil kesimpulan dahulu sebelum membaca penjelasan berikut ini.

Buku atau bahan bacaan lainnya adalah sarana yang efektif untuk memberikan pengetahuan kepada anak, karena dengan membaca kita bisa mengetahui Amerika, Jepang ataupun Jerman, tanpa harus berkunjung ke negara ini. Yah, syukur-syukur sih kita bisa datang langsung, tapi bagi keluarga seperti kita yang ekonominya pas-pasan membaca bisa jadi alternatif.


Aktivitas membaca kedengarannya sesuatu yang sepele tapi kalau tidak dibiasakan maka aktivitas ini akan sulit dilakukan. Apalagi lingkungan dimana kita hidup tidak mendukungnya, wah kalau ini yang terjadi maka hampir dipastikan membaca jadi persoalan serius.

Kalau melihat dampak positif membaca rasanya tidak berlebihan pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Kalau dihayati dengan hati bersih dan kejujuran pepatah ini tak terbantahkan, karena sejumlah fakta ada di depan mata kita. Atas kesadaran ini pula saya selalu mengenalkan anak pertama saya Hazimah Ayu Fadia dengan buku, majalah termasuk koran.

Bahkan setiap pagi usai mandi, Fadia selalu kita biarkan mengacak-acak koran harian Radar Banten dan Kompas yang menjadi langganan saya sejak tahun 2008. Dalam perspektif saya dan istri, kegiatan ini paling tidak mengenalkan Fadia yang ketika tulisan ini dibuat baru usia 8 bulan, untuk mengenalkan kertas koran.

Tak hanya koran yang diacak-acak Fadia, buku yang ada di lemari pun di adul-adul (baca; acak-acak) dan diturunkan ke lantai sehingga jadi berantakan. Kegiatan ini pun tak kami larang dengan harapan Fadia terbiasa dan bisa akrab dengan buku.

Loh.. kok jadi kemana-mana nih?. He.he maaf, contoh anak saya ini hanya menguatkan sekaligus pembuktian bahwa apa yang saya tulis juga sudah dilakukan. Nanti kalau tidak dilakukan saya dikatakan orang yang hanya bisa teori.

Kembali ke masalah keluasan wawasan dan pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang muslim, saya jadi teringat penjelasan Ustad Samson Rahman, penerjemah buku La Tahzan, saat menjadi pembicara pada acara pesantren wisata Ramadhan pada tahun 2006 lalu. Menurut Ustad Samson, seorang muslim diwajibkan melakukan perjalanan atau istilah sekarang sering disebut dengan traveling. “Dengan melakukan perjalanan maka kita akan memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas,” kata Ustad yang berdomisli di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini.

Tuh, ustad saja mengajurkan kita untuk berwisata dengan catatan tetap memperhatikan beberapa aspek dan tidak melanggar syariat. Ayu buruan yang punya duit segera menyusun rencana wisata keluarga (sebetulnya sih tidak perlu nunggu punya duit, boleh kok nebeng kalau tidak malu, he..he).

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya ingin mengingatkan masa keemasan, yang pernah dikuasai oleh peradaban Islam beberapa puluh tahun lalu. Ketika itu peradaban Islam menjadi referensi dunia, Amerika saat itu belum menjadi negara seperti sekarang ini.

Nah, fakta ini bisa kita ketahui jika kita rajin membaca makanya ayo kita rebut kembali peradaban Islam, yang mengkilap dan bersinar supaya dunia mengetahui bahwa Islam adalah satu-satunya konsep yang sesuai dengan fitrah manusia. Kebenaran bagi seorang muslim ibarat barang milik kita yang hilang, untuk itu kita harus mengambilnya ketika barang tersebut sudah ada di depan mata (kalimat ini nyambung ga yah, disambungin aja kali ya).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: